Jumat, 19 Agustus 2016

EVOLUSI AGAMA HINDU DI INDONESIA


EVOLUSI AGAMA HINDU DI INDONESIA

Agama Hindu telah masuk ke Indonesia sejak tarikh awal Masehi. Perkembangan Hindu di Indonesia tidak saja ditunjukkan dengan lahirnya kerajaan-kerajaan Hindu, tetapi juga tatanan keberagamaan yang unik dan kompleks. Perkembangan kesusasteraan Hindu yang demikian pesat, bentuk-bentuk pemujaan, dan artefak-artefak keagamaan lainnya menjadi petunjuk bahwa di Indonesia agama Hindu mengalami perkembangan yang demikian pesat. Hampir sejalan dengan evolusi agama Hindu di India yang mendapatkan pengaruh besar dari peradaban lembah sungai Sindhu, juga agama Hindu di Indonesia menunjukkan peranan kearifan lokal dalam menerima agama Hindu yang datang belakangan.
 
Dalam hubungannya dengan agama Hindu Indonesia, Subagya (1981:6) menyimpulkan bahwa agama Hindu murni tidak pernah menjadi milik bangsa Indonesia. Hinduisme tenggelam dalam lautan pemikiran asli dan dimanfaatkan untuk lebih menegaskan pandangan hidup Indonesia yang masih samar-samar. Artinya, agama Hindu yang datang ke Indonesia diterima oleh masyarakat setempat dan berintegrasi dengan kepercayaan asli untuk menyempurnakan pandangan hidup dan rohani mereka. Untuk menegaskan pandangan di atas, Sumardjo (2002:23-27) menguraikan secara ringkas sejarah kerohanian Indonesia sebagai berikut.

Pertama,kepercayaan terhadap adanya alam kehidupan setelah mati; Kedua,kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu keyakinan terhadap adanya daya-daya gaib pada benda-benda yang ada di alam. Kepercayaan ini menjadi bibit lahirnya tindakan-tindakan magis dan mistis, yakni saat manusia ingin mendapatkan daya-daya gaib tersebut; Ketiga, konsep tentang pola ruang kosmis (keblat papat lima pancer) bahwa ruang dibagi atas empat dimensi dan satu di tengah sebagai pusat. Pola ruang primordial ini dapat berkembang menjadi pola delapan (Hindu: Astadala) dalam wilayah yang lebih luas; dan Keempat, kepercayaan terhadap ruang dan waktu relatif yang bersifat dualistik (binary oposition), seperti sakral-profan, gunung-laut, siang-malam, absolut-relatif, dan sebagainya. Melalui perkawinan kosmis kedua polarisasi ini diharmoniskan, direkonsiliasi, disatukan sehingga semuanya kembali ke Yang Tunggal, Yang Absolut.

 
Keyakinan lokal dari agama asli Indonesia inilah yang kemudian menjadi kekuatan sekaligus daya saring (filter) kebudayaan lokal ketika berhadapan dengan masuknya agama Hindu dari India. Oleh karena itu, dalam perkembangannya agama Hindu Indonesia menampakkan corak yang berbeda dengan tanah kelahirannya, India. Perbedaan ini dapat dilihat pada seluruh wujud kebudayaannya, baik pada tataran ide maupun aktivitas terutama pada artefak-artefak keagamaan (Magetsari dalam Ayatrohaedi, 1986:56). Dalam kerangka inilah menjadi sebuah keniscayaan untuk merunut kembali evolusi agama Hindu melalui pendekatan sejarah dan kebudayaan. Berdasarkan substansi evolusinya, agama Hindu di Indonesia dapat dibedakan, sebagai berikut (1) Periode Awal (Kutai dan Tarumanegara); (2) Periode Siwa-Buddha (Jawa Tengah dan Jawa Timur); (3) Agama Hindu Bali; dan (4) Hindu Pascakemerdekaan Indonesia.

(1)  Periode Awal (Kutai dan Tarumanegara)

Kutai adalah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yang diperkirakan lahir pada abad keempat Masehi. Bukti tentang kerajaan ini adalah ditemukannya 7 (tujuh) buah yupa yang tertulis keterangan sebagai berikut:

“Demikianlah Sri Maharaja Kudungga yang amat mulia, berputera Aswawarman yang masyur pendiri wangsa (keluarga), seperti Sang Hyang Angsuman. Beliau berputera tiga orang yang amat mulia bagaikan api suci, yang terkemuka dari ketiganya, berbudi baik, kuat dan kuasa, Sri Maharaja Mulawarman, telah mengadakan upacara korban emas yang amat banyak, dan untuk memperingati yajna (kurban) itulah yupa didirikan oleh para Brahmana”
Berdasarkan yupa ini dapat diketahui bahwa telah terjadi kontak kebudayaan antara India dengan Indonesia pada masa itu. Dialektika kebudayaan yang terjadi bahwa nama “Kudungga” bukanlah nama Sansekerta sehingga dimungkinkan adalah nama kepala suku penduduk asli yang belum begitu terpengaruh kebudayaan India  (Soekmono, 1981:35). Akan tetapi, nama “Aswawarman” berasal dari bahasa Sansekerta sehingga menunjukkan adanya kontak kebudayaan yang lebih intensif. Sementara itu, pernyataan bahwa Raja Mulawarman telah melaksanakan yajna besar dan persembahan kepada para Brahmana menunjukkan bahwa kerajaan Kutai telah melaksanakan tradisi Hindu yang berasal dari India, khususnya agama Brahmana (Brahmanical Religion).
 
Selain yupa tersebut, memang tidak ditemukan bukti sejarah lain yang secara jelas dapat mengungkapkan perkembangan agama Hindu di Kutai. Akan tetapi, di wilayah sekitar Kalimantan dan Sulawesi sesungguhnya juga ditemukan beberapa arca dewa-dewa Hindu yang menunjukkan bahwa agama Hindu telah berkembang cukup luas pada masa itu. Meskipun tidak ditemukan bukti sejarah berupa tulisan, tetapi berdasarkan petunjuk ini dapat diasumsikan bahwa selain agama Brahmana, juga bersamaan dengan itu telah masuk sekte-sekte yang lain. Mengingat pada abad ke-4 Masehi, juga di India sedang berkembang agama Purana yang bercirikan munculnya banyak sekte atau mazhab keagamaan Hindu.
 
Hampir bersamaan dengan kerajaan Kutai, di Jawa Barat juga berdiri kerajaan Hindu bernama Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berdiri sekitar tahun 400-500 Masehi. Keberadaan kerajaan Tarumanegara dapat dilacak dari peninggalan prasasti-prasasti di daerah Jawa barat. Di daerah Bogor terdapat prasati Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, Pasir Awi, dan Muara Cianten. Di daerah Jakarta ditemukan prasasti Tugu dan Cilincing, dan di Banten Selatan ditemukan prasasti desa Lebak dan Munjul (Soekmono, 1981:36). Salah satu prasasti yang membicarakan tentang kerajaan Tarumanegara dengan rajanya bernama Purnawarman adalah prasasti Ciaruteun. Dalam prasasti tersebut terdapat tapak kaki raja yang diikuti dengan keterangan yang berbunyi “kedua tapak kaki raja Purnawarman raja Tarumanegara yang gagah berani, bagaikan tapak kaki Sang Hyang Wisnu”.
 
Di samping prasasti-prasasti tersebut, juga ditemukan beberapa arca, seperti arca batu tanpa kepala (di Kampung Muara), gajah (di Ciampea), Raksasa, para dewa, Brahma, Dwarapala, Kartikeyya, dan singa (di Cibodas), arca Siwa dari perunggu (di Tanjung Barat), arca Durga, arca Rajarshi (di Tanjung Priok), dan tiga buah arca Wisnu (di Cibuaya) (Dinas Purbakala RI, 1964). Peninggalan purbakala ini memberikan petunjuk bahwa situasi keagamaan Hindu pada masa kerajaan Tarumanegara diwarnai dengan adanya banyak sekte. Boleh jadi, masing-masing sekte ini berkembang sendiri-sendiri sebagaimana perkembangan agama Purana di India pada masa itu. Dari arca-arca yang ditemukan tampak bahwa sekte Brahma, Wisnu, Siwa, Durga (Shakta), Ganapatya, dan subsekte lainnya telah cukup berkembang pada masa itu.

 
(2)  Periode Siwa-Buddha (Jawa Tengah dan Jawa Timur)

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan mengalami keruntuhan sekitar abad ke-7 Masehi. Mengingat dalam naskah Wangsakerta (Ayatroehaedi, 2005) setelah Raja Linggawarman (666 – 669 M) tidak ditemukan catatan lagi tentang raja yang memerintah Tarumanegara. Catatan sejarah berikutnya menunjukkan munculnya Kerajaan Kalingga (618-906 M) yang juga dikenal dengan nama Holing atau Kaling terletak di Jawa Tengah, tepatnya di kaki Gunung Merbabu.  Sejak tahu 647 M, kerajaan Kalinggi dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Ratu Simha atau Ratu Simo. Ratu Simha diyakini memiliki karakter yang keras dalam pemerintahannya, tetapi semua didasarkan pada kejujuran yang ketat sebagai ajaran yang harus dipegang teguh oleh setiap rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan cerita yang menyatakan bahwa ratu Simha memotong kaki salah satu putranya yang dengan tidak segaja menyentuh satu kantung emas yang sengaja ditaruh di tengah jalan (Soekmono, 1981:37).
 
Berita tentang kerajaan Kalingga (Holing) tidak didapatkan secara pasti, tetapi menurut berita dari seorang pendeta Buddha I-Tsing didapatkan informasi bahwa dalam tahun 664 M telah datang seorang pendeta Buddha Mahayana yang bernama Hwi-ning di Holing dan tinggal di sana selama 3 (tiga) tahun. Kemudian, dengan bantuan pendeta Jnanabhadra, ia menterjemahkan berbagai kitab suci agama Buddha Mahayana. Di samping berita China tersebut, juga ditemukan prasasti di Tuk Mas yang berisi keterangan tentang suatu mata air yang jernih, bersih. Sungai yang bersumber daripadanya dinamakan sungai Gangga. Selain tulisan, juga pada batu itu ditemukan gambar Trisula, Sangkha, Cakra, Bunga teratai, dan sebagainya yang kesemuanya menggambarkan tentang lambang Dewa-dewa Agama Hindu (Soekmono, 1981:37). Berdasarkan data tersebut dimungkinkan bahwa pada masa kerajaan Holing keagamaan Hindu masih bersifat sektarian. Selain itu, juga menunjukkan telah terjadinya kontak antara agama Hindu dengan Buddha Mahayana. Ini merupakan petunjuk awal untuk memahami fase perkembangan Siwa-Buddha di Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.
 
Agama Hindu di Jawa tampaknya mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari Prasasti Canggal tahun 732 M yang ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta dan berbunyi sebagai berikut :
 
“Pada tahun Saka yang telah lalu ditandai dengan Saka Sruti Indriya Rasa (Sruti berarti Catur Veda Samhita (4), Indriya berarti Panca Indria (5), dan rasa bermakna Sad Rasa (6), jadi menunjuk angka tahun 654 Saka), pada hari Senin, hari baik tanggal 13 bagian terang Bulan Kartika. Sang Raja Sanjaya mendirikan Lingga yang ditandai dengan tanda-tanda di bukit yang bernama Sthirangga buat keselamatan rakyat" (Ardhana, 2002).
 
Adapun mengenai Lingga yang dimaksud adalah tepatnya berada di Gunung wukir desa Canggal. Menurut Soekmono (1981) bahwa sesungguhnya terdapat 3 (tiga) buah candi di Gunung Wukir, tetapi tidak ada yang diketemukan secara utuh sehingga tidak dapat diketahui bagaimana wujudnya. Lingga dan Yoni terdapat di candi utama dan prasasti Canggal ditemukan di depan candi ini. Perkembangan agama Hindu di kerajaan Mataram Kuni terutama didominasi oleh mazhab Shiwa dan juga Buddha Mahayana. Hal ini ditandai dengan pendirian bangunan-bangunan suci, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Candi-candi Hindu antara lain, Prambanan, Gedongsanga, Dieng, Lorojonggrang, dan Ratu Baka, sedangkan candi Buddha antara lain, Borobudur, Kalasan, Mendut, Sewu, Plaosan. Menarik dicermati bahwa meskipun didominasi oleh Siwa, tetapi para Candi Prambanan – sebagai candi Hindu terbesar pada masa itu – dilukiskan cerita Krsnayana yang identik dengan kitab suci kelompok Waishnawa. Artinya, setiap sekte yang hidup pada masa itu mendapatkan penghargaan dan diberikan kedudukan yang mulia dalam tradisi Siwaistik.
 
Pada pihak yang lain, juga perkembangan agama Siwa (baca: Hindu) di Mataram Kuno sudah semakin tertata secara konsep maupun praktiknya. Hal ini misalnya, pada arca utama di Candi Prambanan telah dilakukan pemujaan kepada Siwa sebagaimana tradisi Purana, yaitu Maharsi Agastya sebagai Bhatara Guru, Ganesha, Lorojonggrang (Durga atau Uma), dan Siwa sendiri. Artinya, keseluruhan aspek agama Hindu, baik tattwa (filsafat), susila (etika), dan acara (ritual) agama Hindu telah dilaksanakan secara simultan pada masa ini sebagai kelanjutan dari masa-masa sebelumnya. Demikian juga kesusasteraan Hindu mengalami perkembangan yang pesat pada masa ini.
 
Catatan penting lainnya dari masa Mataram Kuno adalah mulai munculnya proses sinkritisasi Siwa-Buddha. Secara politis hal ini ditunjukkan dengan perkawinan antara Rakai Pikatan (Sanjayawamsa – beragama Hindu) dengan Pramodhawardani (Syailendrawamsa - beragama Buddha Mahayana). Di samping itu, juga ditunjukkan dalam Prasasti Kalasan (778 M) yang menyebutkan bahwa candi Kalasan ini dibangun atas kerjasama antara Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu (Siwa) dengan wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana. Candi Kalasan sendiri adalah candi untuk pemujaan Dewi Tara. Tentang proses sinkritisasi Siwa-Buddha di Mataram Kuno dijelaskan pula dalam Prasasti Klurak (782 M), yaitu mengenai pembuatan arca Manjusri yang menggambarkan Buddha, Dharma, dan Sanggha yang sama artinya dengan Brahma, Wisnu, dan Maheswara. Meskipun demikian, Siwa dan Buddha pada masa Jawa Tengah (Mataram Kuno) merupakan dua agama besar yang hidup berdampingan secara serasi, selaras, dan harmonis dalam satu negara (Suamba, 2007:91). Mengikuti catatan Rassers (1926:6) bahwa Siwa atau Buddha adalah agama negara yang terkait erat dengan wangsa-wangsa kerajaan tertentu yang berkuasa (Sedyawati, 2009:19). Hal ini penting untuk membedakan dengan percampuran Siwa-Buddha pada masa kerajaan Hindu di Jawa Timur.
 
Bersamaan dengan perkembangan kerajaan Mataram Kuno, juga di Jawa Timur telah berdiri kerajaan Hindu yang bernama Kanjuruhan. Berita tentang kerajaan Kanjuruhan didapatkan dari tulisan prasasti Dinoyo, Malang yang berangka tahun 760 M. Prasati ini menceritakan bahwa pada abad VIII ada sebuah kerajaan yang rajanya bernama Dewasimha. Ia berputra Limwa yang setelah menggantikan ayahnya menjadi raja bernama Gajayana. Pada masa ini didirikan tempat pemujaan kepada Rsi Agastya berupa arca Agastya yang dibuat dari kayu Cendana dan kemudian diganti dengan arca dari batu hitam (Soekmono, 1973:41). Bangunan purbakala yang ditemukan di Kanjuron diduga berkaitan dengan kerajaan ini, yaitu Candi Badut. Dalam candi Badut yang sampai sekarang masih berdiri tegak didapatkan sebuah Lingga yang diduga adalah perwujudan dari Agastya. Dalam panteon Hindu bahwa Rsi Agastya adalah nama lain dari Siwa dalam wujudnya sebagai Mahaguru. Jadi, dimungkinkan bahwa Lingga tersebut didirikan untuk memuja Siwa dalam wujudnya sebagai Rsi Agastya.
 
Menurut Soekmono (1973) bahwa kerajaan Kanjuruhan diduga berhubungan dengan kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno, yaitu ketiganya sama-sama beragama Siwa, sama-sama menggunakan Lingga sebagai lambang, dan candi Badut adalah candi yang bercorak Jawa Tengah. Pergeseran pusat kekuasaan Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur kemungkinan disebabkan oleh faktor politik, yaitu semakin menguatnya pengaruh dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana di Jawa Tengah sehingga dinasti Sanjaya mengalihkan pemerintahannya ke Jawa Timur. Hal ini kemungkinan besar memiliki kebenaran karena kerajaan-kerajaan di Jawa Timur setelah Mataram Kuno adalah kerajaan Hindu, sedangkan Buddha sendiri besar dan menemukan kejayaannya di Sumatera (Sriwijaya).
 
Setelah tahun 929 M, pemerintahan Sanjayawamsa di Jawa Tengah diperkirakan telah mengalami kemunduran. Sejak saat itu, di Jawa Tengah tidak ditemukan lagi prasasti-prasasti yang dapat digunakan petunjuk tentang Dinasti Sanjaya. Prasasti berikutnya justru ditemukan di Jawa Timur dari dinasti yang berbeda, yaitu Dinasti Isana (Isanawamsa). Raja pertama dari dinasti ini adalah Mpu Sindok (929-947 M). Pada masa Mpu Sindok ini lahir kitab agama Buddha Mahayana, yaitu Tutur Sanghyang Kamahayanikan, tetapi Dinasti Isana sendiri adalah beragama Siwa sebagaimana dapat diketahui dari prasasti-prasastinya.  Pengganti Mpu Sindok adalah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa (991-1016). Memang tidak diketahui secara pasti apakah raja ini keturunan Isana atau bukan. Akan tetapi, pada masa inilah agama Hindu memperoleh perhatian yang luar biasa, yaitu dengan dicanangkannya mahakarya “mengjawaken Byasa mata” atau membahasajawakan ajaran Maharsi Wyasa, yaitu kitab Mahabharata - Astadasa Parwa. Di samping itu, juga disusun kitab Siwasasana yang secara umum berbicara mengenai aturan-aturan kependetaan agama Siwa.
 
Pemerintahan Dharmawangsa dikatakan hancur karena mengalami pralaya. Dalam prasasti yang tersimpan di Calcutta, India, dikatakan bahwa keruntuhan pemerintahan Dharmawangsa Teguh adalah karena serangan Raja Worawari yang diperkirakan adalah koloni dari Sriwijaya. Dalam pralaya tersebut, Airlangga yang pada saat itu masih berusia 16 tahun berhasil meloloskan diri bersama Narottama dan bersembunyi di Wanagiri mengikuti para pertapa. Apabila dikaji tentang kata “Narottama” yang berarti manusia utama, maka dimungkinkan para pendetalah yang menyelamatkan Airlangga. Airlangga sendiri adalah putra sulung dari perkawinan Mahendradatta dengan Udayana yang memerintah di Bali. Mahendradatta adalah cucu dari Mpu Sindok, yaitu anak perempuan dari Sri Isanatunggawijaya. Jadi, Airlangga adalah penerus atau pewaris dari kerajaan Mpu Sindok. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Airlangga diselamatkan para pendeta karena merupakan putra mahkota.
 
Pada masa pemerintahan Airlangga digambarkan bahwa kerajaan menjadi tenteram dan kehidupan keagamaan menjadi semakin baik. Dalam hal karya sastra, pada masa Airlangga lahirlah sebuah karya sastra spiritual, yaitu Kakawin Arjunawiwaha yang penuh nilai luhur. Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Sanggramawijaya yang dicalonkan untuk menaiki tahta kerajaan. Akan tetapi, di luar dugaan Sanggramawijaya menolak menjadi raja dan memilih hidup kependetaan  dan bertapa di pertapan Pucangan (Gunung Penanggungan) dengan gelar dewi Kili Suci. Untuk menghindari terjadinya perebutan kekuasaan oleh kedua anaknya maka dengan bantuan Mpu Bharadah dipecahlah kerajaannya menjadi dua bagian, yaitu kerajaan Jenggala (Singhasari) yang beribukota di Kahuripan dan kerajaan Panjalu (Kadiri) yang beribukota di Daha. Setelah membagi kerajaannya tersebut, Airlangga mengundurkan diri sebagai raja dan mengambil jalan hidup sipiritual dengan menjadi pertapa bergelar Rsi Gentayu. Beliau wafat pada tahun 1049 M dan didharmakan di Candi Belahan, sebuah bangunan suci yang terdiri atas kolam-kolam di lereng timur gunung Penanggungan. Airlangga diwujudkan sebagai Garuda Wisnu Kencana, yaitu Dewa Wisnu yang berkendaraan burung Garuda sebagai pemuliaan bahwa dirinya adalah titisan Wisnu.
 
Dari dua kerajaan yang dibagi oleh Airlangga di akhir masa pemerintahannya, tampaknya hanya Kadiri yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Raja pertama yang naik ke pentas sejarah adalah Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu dengan prasastinya yang berangka tahun 1104 M. Ia menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu sebagaimana Airlangga. Kemudian dilanjutkan oleh kameswara (1115-1130) yang menggunakan tengkorak bertaring sebagai lencana kerajaannya, dan Beliau juga menamakan dirinya sebagai titisan Bhatara Kama. Cerita tentang Kameswara dan Sri Kirana dalam cerita Panji digambarkan sebagai romantika antara Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana. Pada masa ini, Mpu Dharmaja menggubah Kakawin Smaradahana.
 
Raja selanjutnya adalah Jayabaya (1130-1160) yang bergelar Sri Maharaja Sri Dharmeswara Madhusudhanawataranindita Suhtrsingha Parakrama Digjayotunggadewa. Beliau menggunakan Narasimha sebagai lencana kerajaan. Nama Jayabaya terutama dikekalkan dalam kitab Bharatayuddha, sebuah kakawin yang digubah oleh Mpu Sedah dalam tahun 1157 dan disempurnakan oleh Mpu Panuluh. Raja Jayabaya diganti oleh Sarweswara (1160-1170), kemudian dilanjutkan oleh Aryeswara (1170-1180) yang memakai Ganesha sebagai lencana kerajaan. Kemudian dilanjutkan oleh raja Gandra yang bergelar Sri Krocarryadwipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digajyotunggadewanama Sri Gandra. Dalam prasasti yang dikeluarkan pada masa-masa ini mulai diketahui bahwa para petinggi kerajaan banyak menggunakan nama-nama binatang, seperti Kebo Slawah, Manjangan Puguh, Lembu Agra, Gajah Kuning, Macan Putih dan sebagainya. Dari tahun 1190-1200 yang memerintah adalah raja Srengga yang menggunakan kerang bersayap (Sangkha) di atas bulan sabit sebagai lencana kerajaannya. Raja terakhir adalah Krtajaya (1200 – 1222 M) yang pada tahun 1222 terpaksa menyerahkan mahkota kerajaan kepada Singhasari. Dalam pertempuran di Genter melawan Ken Arok, dikatakan bahwa Krtajaya kalah dan sekaligus menandai berakhirnya kejayaan kerajaan Kadiri. Lencana negara yang digunakan oleh Krtajaya adalah Garudamukha, seperti juga Airlangga (Soekmono, 1973:57—58).
 
Dari ringkasan sejarah tentang kerajaan Kadiri dapat diketahui beberapa hal menarik dalam perkembangan Hindu di Jawa pada masa itu. Para raja menggunakan nama dan simbol (lencana) negara dengan simbol-simbol keagamaan Hindu. Apakah nama dan simbol tersebut menunjukkan ajaran agama atau mashab yang dianut oleh raja pada masa itu tidaklah jelas, tetapi dari simbol-simbol tersebut dimungkinkan bahwa pada masa itu telah berkembang mashab-mashab antara lain Waisnawa (Wisnu), Tantrayana, Bairawa, Ganesha, Pasupati dan mashab lainnya. Meskipun demikian, pada masa Kadiri agama Hindu mengalami perkembangan yang sangat pesat ditunjukkan dengan munculnya kitab-kitab (Kakawin) berbahasa Jawa Kuno, seperti Kakawin Smaradahana oleh Mpu Dharmaja, Cerita Panji, Kakawin Bharatayudha oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Lubdhaka (Siwalatri Kalpa) dan Wrttasancaya oleh Mpu Tanakung, Krsnayana karya Mpu Triguna, dan Sumanasantaka karya Mpu Monaguna.
 
Kerajaan Singhasari didirikan oleh Ken Arok (1222—1227 M). Ken Arok berhasil mengalahkan Krtajaya, Raja Kadiri dalam sebuah pertempuran di Genter sehingga Ken Arok-pun diangkat sebagai raja Tumapel (Singhasari) dan Kadiri yang secara resmi beribukota di Kutaraja. Kemudian, Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (anak tirinya) dan dicandikan di Kagenengan dalam bangunan suci agama Siwa-Buddha. Sementara itu, Ken Dedes sendiri tidak diketahui tahun wafatnya dan tempat dimuliakannya, tetapi dimungkinkan bahwa Arca Prajnaparamita yang ditemukan di daerah Singhasari adalah perwujudannya (Soekmono, 1973). Setelah Ken Arok wafat maka Anusapati memerintah Singhasari (1227—1248 M), tetapi dia juga dibunuh oleh Tohjaya. Anusapati dimuliakann di Candi Kidal, sebelah tenggara Kota Malang.  Hanya beberapa bulan saja Tohjaya diperkirakan memerintah Singhasari, sebelum akhirnya dibunuh oleh Ranggawuni – putra dari Anusapati. Menurut sumber diketemukan bahwa Tohjaya dimuliakan di Katang Lumbang, tetapi tempat tersebut tidak diketahui keberadaanya hingga sekarang (Soekmono, 1973).
 
Sejak tahun 1248 M, Singhasari diperintah oleh Ranggawuni dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana dan menjadi raja Singhasari pertama yang namanya dikekalkan dalam sebuah prasasti. Sementara itu, Mahisa Campaka, anak dari Mahesa Wonga Teleng dinobatkan sebagai Ratu Anggabhaya dengan bergelar Narasimhamurti. Dengan demikian, kerajaan Singhasari dipimpin oleh Rangga Wuni sebagai Raja utama dan Mahesa Campaka sebagai Ratu Anggabhaya, yang diyakini keduanya memerintah laksana Wisnu dan dewa Indra. Kemudian pada tahun 1254 M, Wisnuwardhana melantik anaknya yang bernama Krtanegara sebagai raja Singhasari walaupun dia sendiri tidak melengserkan diri dari singgasana kerajaan. Artinya, secara formal Krtanegara telah diangkat sebagai raja, tetapi secara faktual Wisnuwardhana tetap memerintah hingga dia meninggal 1268 M dan dicandikan di Weleri sebagai Siwa, serta di candi Jago sebagai Buddha Amogapasha.
 
Pemerintahan Singhasari mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Kertanegara. Hal ini dapat dilacak dari kitab Negarakertagama bahwa Kertanegara telah menaklukkan Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan Gurun (Maluku). Pada masa ini, secara politik Kertanegara juga telah bekerjasama dengan Campa dengan memberikan salah satu putrinya kepada raja Campa, Jaya Simhawarman III. Akan tetapi, kejayaan Singhasari pada tahun 1292 M mengalami kehancuran akibat serangan dari kerajaan Kadiri yang bangkit lagi setelah diperintah oleh Jayakatwang. Bersama dengan Arya Wiraraja, Jayakatwang menyerang Singhasari. Dalam penyerangannya ke Singhasari, Jayakatwang menggunakan strategi penyerangan dari dua arah, yaitu dari selatan dan dari utara. Serangan dari utara tampaknya dianggap cukup serius oleh Kertanegara karena menimbulkan banyak kekacauan sehingga pertahanan Singhasari difokuskan ke utara dengan mengirimkan Raden Wijaya (putra Lembu Tal, cucu dari Mahisa Campaka) dan Arddharaja (putra Jayakatwang) untuk menghadangnya. Rupanya strategi ini berhasil karena Jayakatwang berhasil masuk dari selatan dan membunuh semua punggawa istana kerajaan Singhasari, termasuk Kertanegara. 
 
Diceritakan bahwa pada saat pasukan Kadiri memasuki kerajaan, Kertanegara sedang minum sampai mabuk bersama para punggawa kerajaan Singhasari. Menurut Soekmono (1981) sesungguhnya Kertanegara sedang melaksanakan ritual Budha Tantra. Hal ini dikuatkan dengan bukti yang tertulis dalam lapik arca Joko Dolok di Surabaya yang menyatakan bahwa Kertanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha), yaitu sebagai Aksobhya dan Joko Dolog itu adalah arca perwujudannya sendiri. Sebagai Jina dia bergelar Jnanasiwabajra. Setelah wafat, Kertanegara dinamakan Siwabudha dalam kitab Pararaton, sedangkan dalam Negarakrtagama dia dikatakan “mokteng Siwabuddhaloka” (Moksa di alam Siwabuddha), juga di kitab-kitab lain disebut “lina ring Siwabuddhalaya” dan “lumah ri Siwabudha” dengan makna yang sama.
 
Kertanegara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Siwa dan Buddha. Dia juga dicandikan di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana); dan di Candi Singhasari dicandikan sebagai Bhairawa (Soekmono, 1973). Pada zaman ini, rupanya sinkritisme antara Siwa-Buddha sudah semakin menguat dan pelaksanaan ajaran Tantrayana tidak lagi sebatas ajaran yang bersifat filosofis, tetapi telah dilaksanakan secara ritual. Dengan demikian, dapat diyakini bahwa ajaran Siwa-Buddha dan Tantrayana merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar rakyat Singhasari.
 
Diceritakan selanjutnya bahwa Raden Wijaya yang sedang mengejar tentara Kediri ke utara terpaksa melarikan diri setelah tahu Singhasari jatuh, sedangkan Arddharaja (putra dari Jayakatwang) berbalik memihak Kadiri. Dengan bantuan lurah desa Kudadu Raden Wijaya dapat menyeberang ke Madura, guna mencari perlindungan dan bantuan dari Arya Wiraraja di Sumeneb. Atas saran dan jaminan Arya Wiraraja, Raden Wijaya menghambakan diri ke Jayakatwang di Kadiri, dan ia dianugerahi tanah di desa Tarik. Kemudian atas bantuan orang-orang Madura maka hutan Tarik tersebut dibuka dan berkembang menjadi desa yang subur dengan nama Majapahit. Sementara itu tentara Tiongkok sebanyak 20.000 orang yang diangkut 1.000 kapal berbekal untuk satu tahun telah mendarat di Tuban dan di dekat Surabaya dengan tujuan menyerang Singhasari untuk membalas penghinaan Krtanegara terhadap Kubilai Khan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya, yaitu ikut menggabungkan diri dengan tentara Tiongkok untuk menggempur Singhasari yang sesungguhnya sudah telah diperintah oleh Jayakatwang. Dalam serangan tersebut akhirnya Jayakatwang menyerah. Akan tetapi, saat tentara Tiongkok sampai di pelabuhan untuk kembali ke negerinya maka Raden Wijaya dengan pengikut-pengikutnya berbalik menyerang tentara Tiongkok sehingga banyak menimbulkan korban dan yang selamat melarikan diri kembali ke negerinya, Tiongkok.
 
Dengan bantuan pasukan Singhasari yang kembali dari ekspansi Pamalayu ke Sumatra maka Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama di kerajaan Majapahit bergelar Krtarajasa Jayawardhana (1293—1309 M). Beliau memiliki 4 (empat) orang isteri, dimana yang tertua bernama Tribhuwana/Dara Petak dan yang termuda bernama Gayatri yang disebut juga Rajapatni dan dari padanyalah berlangsungnya raja-raja Majapahit selanjutnya. Krtarajasa wafat di tahun 1309 M dan untuk memuliakannya dicandikan dalam candi Siwa di Simping (Candi Sumberjati) – sebelah selatan Blitar, dan sebagai Buddha dicandikan di Antahpura dalam kota Majapahit. Arca perwujudannya adalah Harihara, berupa Wisnu dan Siwa dalam satu arca, sedangkan Tribhuwana dimuliakan di candi Rimbi di sebelah barat daya Mojokerto dalam wujudnya sebagai Parwati.
 
Raden Wijaya meninggalkan 2 (dua) anak perempuan dari Gayatri berjuluk Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, serta satu anak laki-laki dari Dara Petak yaitu Kalagemet/Jayanegara. Kalagemet kemudian menaiki tahta kerajaan pada tahun 1309. Kalagemet/Jayanegara (1309—1328 M), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan). Jayanegara wafat di tahun 1328 M tanpa seorang keturunan. Ia dicandikan di Sila Petak dan Bubat dengan perwujudannya sebagai Wisnu, serta di Sukalila sebagai Amoghasiddhi – candi-candi ini tidak dapat diketahui kembali. Pengganti Jayanegara adalah Bhre Kahuripan yang mewakili ibunnya naik tahta dengan gelar Tribhuwananottunggadewi Jayawisnuwardhani (1328—1360 M). Tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan Keta (daerah Besuki), saat itulah Gajah Mada tampil sebagai Patih Majapahit yang berhasil menumpas pemberontakan. Gajah Mada menunjukkan pengabdiannya mengeluarkan sumpah yang sangat terkenal, yaitu Sumpah Amukti Palapa – sumpah untuk menyatukan seluruh nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
 
Tahun 1360 M, Tribhuwanottunggadewi menyerahkan tahta kerajaan Majapahit kepada anaknya, yaitu Hayam Wuruk yang memerintah dengan gelar Rajasanagara (1360—1369 M) dan Gajah Mada menjadi patihnya. Pada masa inilah, Majapahit mengalami zaman keemasan. Selain sebagai negarawan, Gajah mada juga dikenal pula sebagai ahli hukum dan politik. Gajah Mada menyusun kitab Kutaramanwa sebagai kitab hukum di Kerajaan Majapahit berdasarkan kitab hukum Kutarasastra (lebih tua) dan kitab hukum Hindu Manawadharmasastra. Pada masa ini, juga terjadi penulisan beberapa kitab Hindu berbahasa Jawa Kuna, yaitu Negara Krtagama oleh Mpu Prapanca, Arjunawijaya dan Sutasoma oleh Mpu Tantular. Hayam Wuruk wafat tahun 1369 M dan diperkirakan dimuliakan di Tayung (daerah Brebek Kediri). Pasca kematian Hayam Wuruk, Majapahit mengalami masa suram dan menuju kehancurannya, sekaligus ditandai dengan masuknya Islam ke Jawa. Satu-satunya kitab yang menunjukkan masa akhir Majapahit adalah Pararaton, meskipun uraiannya juga belum sepenuhnya diterima oleh kalangan sejarah. Penerus Majapahit akhir adalah Kertabumi atau Brawijaya yang memerintah pada tahun 1453—1478 M, tetapi tidak diketahui mengenai perjalanan kerajaannya.
 
Berdasarkan catatan perkembangan masa Siwa-Buddha, baik yang terjadi di Jawa Tengah maupun Jawa Timur tampak bahwa perkembangan agama Hindu sudah mengalami berbagai bentuk sinkretisme antar-sekte, bahkan Hindu dan Buddha. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Siwa-Buddha pada masa Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa Jawa Tengah, Agama Siwa (Hindu) dan Buddha berdiri sendiri-sendiri sebagai agama negara, tetapi mampu bekerjasama (coalition) dalam kehidupan keagamaan. Sebaliknya, Siwa-Buddha pada masa pemerintahan di Jawa Timur telah mengalami peleburan pada aspek metafisi dan ketuhanan. Siwa dan Buddha adalah dua aspek dari satu kebenaran yang tunggal (Rassers, 1926:6; Sedyawati, 2009:19). Siwa-Buddha adalah prinsip kebenaran tertinggi yang tidak dapat dibedakan satu dengan yang lain. Konon berbeda, tetapi sesungguhnya satu karena tidak ada kebenaran yang mendua. Hal ini lebih tegasnya dapat disimak dalam salah satu baik Kakawin Sutasoma, berikut ini.

Rwaneka dhatu winuwus wara buddha wiswa/      
bhineka rakwa ring apan kena parwanosen/
mangka ng Jinatwa kalawan Siwatwa tunggal/
bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//

(Disebutkan dua perwujudan Beliau, yaitu Buddha dan Siwa/
berbeda konon, tetapi kapankah dapat dibagi dua/
demikianlah kebenaran Buddha dan kebenaran Siwa itu satu/
yang berbeda itu sesungguhnya satu jua, karena tidak ada dharma yang mendua//) (Kakawin Sutasoma).


(3)  Agama Hindu Bali

Agama Hindu Bali memiliki catatan tersendiri dalam evolusinya. Meskipun mengalami pengaruh dari perkembangan agama Hindu di Jawa Timur khususnya, tetapi agama Hindu di Bali juga mengalami tahapan-tahapan perkembangan. Setidak-tidaknya, bukti-bukti peninggalan purbakala di Bali menunjukkan bahwa orang Bali pra-Hindu telah memiliki kepercayaan terhadap dewa-dewa lokal, leluhur, animisme dan dinamisme, serta berbagai tradisi ritual. Kemudian, masuknya pengaruh Hindu dimungkinkan terjadi bersamaan dengan kedatangan Maharsi Markandeya ke Bali sekitar abad ke-8 Masehi. Maharsi Markandhya bermaksud mengembangkan inti-inti keimanan sekte Tri Sakti, yaitu Brahma, Waisnawa, dan Saiwa, serta segala hal ikhwal upacara yajna (Ardana, 1982:22). Ini merupakan pembabakan penting dalam sejarah masuknya pengaruh Hinduisme ke dalam sistem kepercayaan lokal, yakni dikenalnya sekte Tri Sakti dan upacara yajna.
 
Tokoh pembaharu Hindu berikutnya adalah Mpu Kuturan yang datang ke Bali sekitar abad ke-10. Dalam kurun waktu sejak kedatangan Maharsi Markandhya hingga kedatangan Mpu Kuturan, rupanya di Bali tengah terjadi dinamika keberagamaan dengan munculnya banyak sekte yang diidentifikasi oleh Goris (1968:4) sebanyak 9 (sembilan) sekte, yaitu Saiwa Siddhanta, Pasupata, Bhairawa, Wesnawa, Budha/Sogata, Brahma, Rsi, Sora, dan Ganapatya. Mpu Kuturan melaksanakan pasamuhan agung di Pura Samuhan Tiga dan berhasil memfusikan kesembilan sekte tersebut ke dalam sekte Tri Murti atau Tri Sakti, yakni sekte Hindu yang awalnya telah diperkenalkan oleh Maharsi Markandhya. Dalam bidang kemasyarakatan Mpu Kuturan telah berhasil menjadikan konsep Tri Murti sebagai pengikat sistem sosial dengan mewajibkan pembangunan Kahyangan Tiga/Desa di setiap desa pakraman (Ardana, 1982:30).
 
Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460—1550 M), Bali kembali kedatangan orang suci dari Jawa, yaitu Danghyang Dwijendra yang juga dikenal dengan nama Danghyang Nirartha. Kedatangannya juga disusul oleh keponakannya, yaitu Danghyang Astapaka. Danghyang Nirartha inilah dikenal sebagai leluhur para Brahmana Siwa di Bali, sedangkan Danghyang Astapaka sebagai leluhur para Brahmana Buddha (Anandakusuma, 1986:41). Sejak saat itu sampai sekarang, kedua brahmanawangsa ini secara turun-temurun meneruskan tradisi diksa menjadi pendeta Siwa dan Buddha dengan gelar Padanda (Anandakusuma, 1986:42). Selain itu, juga Danghyang Dwijendra mempelopori pendirian padmasana dan sanggah agung pada setiap pura di Bali sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa (Ardana, 1982:36). Jadi, pada masa ini telah muncul pembaruan Hindu, yaitu penerimaan konsep monotheisme dalam sistem ketuhanan Hindu dan implementasinya dalam bentuk tempat suci.
 
Perkembangan keagamaan ini menyebabkan agama Hindu di Bali memiliki keunikan dan kekhasannya, bahkan berbeda dengan asalnya – India. Secara umum, konsep-konsep Hindu dari India yang bersumber Weda, Upanisad, Samkhya, Yoga, Wedanta, Saiwa Sidhanta, dan Agama (Tantra) diterima untuk memuliakan kepercayaan lokal yang telah ada. Dalam konsep ketuhanan misalnya, umat Hindu di Bali menganut konsep Ista Dewata (dewa-dewa pujaan) sebagai implementasi dari konsep “Tuhan yang tunggal, dipuja dalam banyak nama”. Implikasinya bahwa tidak hanya nama-nama dewa dari India yang diterima, juga dewa-dewa lokal tetap mendapatkan tempat yang mulia. Dalam hal ritual, konsep panya yajna dari India disesuaikan dengan tradisi lokal Bali berupa sesajian yang disebut banten yang terkandung aspek-aspek Tantra, khususnya persembahan Panca Makara. Demikian halnya pada aspek-aspek keagamaan, sosial, dan kebudayaan yang lain terjadi akulturasi antara budaya lokal Bali dan tradisi Hindu dari India.
 
Berdasarkan paparan tersebut, dapat dijelaskan beberapa ciri penting agama Hindu di Bali sebagai berikut.

  1. Terjadi penyatuan sekte-sekte (paksa) ke dalam sekte Siwa yang kemudian diimplementasikan menjadi konsep Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Iswara – sebagai perwujudan dari Siwa.
  2. Menerima konsep-konsep keagamaan Hindu yang bersumber dari Weda, Upanisad, Samhkya, Yoga, Wedanta, Saiwa Siddhanta, dan Tantra, yang ditafsirkan dalam kitab-kitab Siwatattwa dan lontar-lontar lainnya.
  3.  Melaksanakan Panca Yajna yang disesuaikan dengan tradisi lokal, yaitu menggunakan babantenan Bali yang kental dengan persembahan Panca Makara (Tantrayana).
  4.  Melaksanakan pemujaan kepada leluhur, bahkan secara berjenjang dari tingkat keluarga inti (Rong Tiga), keluarga besar (Panti dan Dadia), klan atau soroh (Padarman). 
  5. Dalam sistem sosial-keagamaan ditandai dengan pentingnya kedudukan para Pendeta sebagai sumber otoritas upacara keagamaan, sekaligus menghantarkan persembahan umat kepada para Dewa.
  6. Masih kuatnya sistem feodalistik, menyebabkan munculnya Puri dan Griya sebagai pusat-pusat keagamaan.
                                                                    

(4)  Hindu Modern

Sejalan dengan pasang surut sejarah keagamaan Hindu di Indonesia yang salah satunya ditandai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit sebagai kerajaan Hindu terbesar di Indonesia, maka perkembangan agama Hindu mengalami kemerosotan sampai titik terendah. Kemudian, Bali menjadi satu-satunya pulau di nusantara yang penduduknya tetap mempertahankan agama Hindu. Hal ini ditegaskan oleh Swellengrebel (1960:21) bahwa Bali sudah berabad-abad Hindu atau Hindu Bali, namun setelah itu ada Jawa-Bali atau lebih tepat Hindu Jawa-Bali. Pengaruh Majapahit masih terasa pada agama orang Bali hingga masa kini. Oleh karena itu, Bali menjadi satu-satunya pulau di Indonesia yang mayoritas  penduduknya masih beragama Hindu.
 
Hal ini menjadi petunjuk bahwa perkembangan agama Hindu di Bali, memiliki pengaruh cukup besar bagi perkembangan agama Hindu di Indonesia. Periode Hindu modern dapat dirujuk dari perkembangan agama Hindu di Bali dan di Indonesia terutama pasca kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Oleh karena itu, evolusi agama Hindu di Indonesia ditandai dengan upaya para tokoh Hindu untuk mendapatkan pengakuan negara, seperti agama Islam dan Kristen. Perjuangan ini secara ringkas dapat diformulasikan sebagai berikut. Pertama, terbentuknya Biro Urusan Agama Hindu Bali pada Kementerian Kementrian Agama Republik Indonesia pada 2 Januari 1959. Kedua, terbentuknya Parisada Dharma Hindu Bali (PDHB) pada 23 Februari 1959. Ketiga, mengubah nama PDHB menjadi Parisada Hindu Dharma (PHD) pada 10 Oktober 1964. Keempat, mengubah nama PHD menjadi Parisada Hindu Dharma Pusat (PHDP) pada 27 September 1980. Kelima, mengubah nama PHDP menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pada 27 Februari 1986 sampai dengan sekarang.
 
Pada masa ini, Parisada menjadi lembaga agama Hindu yang memiliki peranan dalam mengatur tata keagamaan umat Hindu di Bali dan di Indonesia. Mengingat di dalam tubuh Parisada terdapat lembaga Bhisama yang terdiri atas para pendeta atau sulinggih. Dari sejak kelahirannya hingga Mahasabha ke-7, Parisada telah berhasil mengeluarkan beberapa konsep-konsep dan keputusan penting berkaitan dengan keagamaan Hindu, sebagai berikut.

  1. Buku Upadesa yang berisi rumusan-rumusan tentang agama Hindu.
  2. Keputusan Hasil Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang membahas berbagai tata keagamaan Hindu yang dipandang perlu disistematisasikan kembali agar tidak menimbulkan kontroversi di masyarakat.
  3. Melakukan penataan dan pembinaan keumatan melalui program Dharma Agama dan Dharma Negara. 
  4. Mendirikan Institut Hindu Dharma (IHD) yang menjadi UNHI sekarang pada 3 Oktober 1963 sebagai perguruan tinggi Hindu pertama di Bali dan Indonesia.
  5. Mendorong penerjemahan berbagai kitab suci Hindu, baik yang berasal dari India maupun Indonesia (Jawa Kuno).
  6. Menghapus berbagai sanksi adat yang dipandang tidak sejalan dengan ajaran agama Hindu, seperti Asu Pundung dan Manak Salah.
Demikianlah beberapa hasil kinerja Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dalam perkembangannya hingga Mahasabha VII, yaitu tahun 1997. Pada Mahasabha VIII tepatnya tanggal 24 September 2011 terjadi kekacauan dalam tubuh PHDI yang menurut Jelantik (dalam Mantik (ed), 2009:10), konon perpecahan ini terjadi sebagai akibat adanya indikasi kelompok sampradaya yang ingin mengukuhkan eksistensinya di kalangan pemeluk agama Hindu bercampur dengan kepentingan soroh yang belakangan menguat, atau kepentingan politik, juga mungkin kepentingan pribadi. Pandangan ini didasari oleh kenyataan, masuknya nama-nama tokoh sampradaya dalam kepengurusan Parisada Pusat, bahkan dominannya sulinggih dari kelompok soroh tertentu dalam kepengurusan sabha pandita. Sampradaya yang dimaksud antara lain, Hare Rama Hare Krishna, Sri Satya Sai Baba, Brahma Kumaris, Satguru Satsang, Ananda Marga, Gandhi Ashram, dan lain sebagainya yang berafiliasi pada tradisi Hindu India.
 
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami beberapa ciri penting periode Hindu Modern di Indonesia sebagai berikut.
  1. Munculnya kekuasaan keagamaan lain di luar Pendeta yang mengatur berbagai tata keagamaan Hindu, yaitu PHDI. PHDI dibentuk pada tingkat pusat, provinsi, kabupaten, dan kecamatan di seluruh Indonesia.
  2. Ajaran agama Hindu mulai diajarkan di sekolah-sekolah dan kepada masyarakat sehingga pengetahuan tentang agama Hindu semakin tersebar dan terbuka untuk dipelajari.
  3. Munculnya Sampradaya yang berafiliasi pada tradisi Hindu dari India.
  4. Munculnya gerakan-gerakan berbasis soroh atau klan dalam bidang keagamaan Hindu dengan berbagai isu dan kegiatan, seperti penyederhanaan upacara, upacara massal, dan reformasi adat.
  5. Secara umum muncul dua kelompok keagamaan Hindu, yaitu (a) kelompok konservatif yang ingin mempertahankan tradisi Hindu sebagaimana diwarisi dari semula, dan (b) kelompok progresif yang ingin mengubah agama Hindu sesuai dengan kondisi kekinian.
Evolusi agama Hindu di Indonesia diwarnai dengan perpaduan antara agama Hindu yang datang dari India dan kepercayaan lokal. Artinya, agama Hindu mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan karakter lokal sehingga memiliki karakter yang unik dan khas. Dalam hal ini, agama Hindu mampu memuliakan rohani masyarakat Indonesia melalui berbagai bentuk akulturasi dan modifikasi keagamaan. Secara umum, periodisasi evolusi Hindu di Indonesia dapat dibagi menjadi empat periode, yaitu (1) periode awal (Kutai dan Tarumanegara) bahwa agama Hindu masih bersifat sektarian; (2) periode Siwa-Buddha (Jawa Tengah dan Jawa Timur) bahwa sudah mulai terjadi koalisi dan penyatuan antar-sekte, bahkan antara Hindu dan Buddha yang tidak pernah terjadi sebelumnya di India; (3) Agama Hindu Bali, yaitu konstruksi dan rekonstruksi keagamaan Hindu di Bali dengan semakin kokohnya mazhab Saiwa Siddhanta  yang menyatukan sekte-sekte di Bali. Agama Hindu Bali pada akhirnya banyak mempengaruhi bentuk-bentuk keagamaan Hindu di Indonesia pascaruntuhnya kerajaan Majapahit sampai dengan kemerdekaan RI; (4) Hindu modern yang menandai terjadinya perubahan keagamaan secara radikal, yaitu terjadinya pluralitas pemikiran dan praktek keagamaan Hindu karena masuknya berbagai pemikiran dan kelompok-kelompok keagamaan baru.

 
(Sumber: Prof. D.Litt. Dr. I Gusti Putu Phalgunadi, MA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar