Selasa, 23 Agustus 2016

HAKIKAT KARMA KANDA

HAKIKAT KARMA KANDA
DALAM KAKAWIN ARJUNA WIWAHA

Oleh
Nanang Sutrisno


Kakawin Arjuna Wiwaha (KAW) karya Mpu Kanwa adalah sastra religius Jawa Kuna yang cukup populer, baik dalam dunia pewayangan Jawa maupun tradisi mabebasan di Bali. Keunggulan karya ini karena Sang Kawi begitu mumpuni dalam memadukan struktur naratif, naluri estetis, dan ekspresi religius. Keseluruhan inti cerita dibungkus dalam manggala kakawin, yakni Sang Paramartha Pandita, huwus limpat sangkeng sunyata (’pandita utama yang telah melampaui kesunyataan’) (KAW, I.1). Sang Paramartha Pandita menggambarkan kondisi jivanmukti, yaitu orang yang mencapai kelepasan dalam kehidupan fana. Setelah kondisi ini tercapai, Sang Jivanmukti kembali dalam kehidupan nyata untuk menciptakan kebahagiaan dunia melalui kerja tanpa pamrih (’tan sangkeng wisaya prayojananira, lwir sanggraheng lokika, siddhaning yasa wirya, sukaning rat kininkin nira’) (KAW, I.1). Oleh karena itu, kesadaran karma kanda menjadi konsep inti yang terkandung dalam keseluruhan makna kakawin ini.
Kesadaran karma kanda utamanya dapat disimak dalam bait Kakawin Arjuna Wiwaha XII.6, yang dalam tradisi mabebasan ditembangkan dengan wirama Rajani (Manda Malon) sebagai berikut.
Kadi hana pùrwakarma dinalih sang akarya hayu,
ulah apagêh magêgwana rasàgama buddhi têpêt,
ya juga sudhìra munggu ri manah nira sang nipuna,
karana nikang sukhàbhyudaya niskala yan katêmu
Terjemahan :
Seperti ada pùrwakarma, selalu dibicarakan oleh orang yang berbuat baik,
Perilaku yang teguh berpegang pada rasa, agama, dan buddhi secara tepat,
Itu juga yang selalu berada dalam pikiran orang yang arif bijaksana,
Itulah penyebab kebahagiaan lahir dan batin, bila ditemukan.

Bait kakawin ini menceritakan tentang pùrwakarma atau hakikat karma (Yasa, 2009:1). Seorang karmin atau penganut karma kanda adalah orang yang selalu berbuat baik (’sang akarya hayu’) dengan berpegang teguh (‘ulah apagêh’) pada rasa, àgama, dan buddhi, secara tepat (têpêt). Ketiga kesadaran inilah yang selalu diupayakan dengan benar ”amuter tutur pinahayu’, karena ketiganya adalah penyebab kebahagiaan lahir dan batin, bila ditemukan (sukhàbhyudaya niskala yan katêmu). Melalui olah rasa orang mengalami keindahan (sundharam), melalui olah àgama mengalami kesucian (sivam), dan melalui olah buddhi mengalami kebenaran dan kebijaksanaan (satyam). Tidak diragukan lagi, satyam, sivam, dan sundharam adalah hakikat Hinduisme sebagaimana diapresiasi dalam kitab-kitab Upanisad (Zimmer, 2003; Mehta, 2005). Ketiga kesadaran ini dimiliki oleh Sang Arjuna yang telah mendapatkan anugerah Bhattara Śiwa karena ketulusan bhaktinya (’stutinira tan tulus’) (KAW, XII.1). Karma dan bhakti (karma kanda) adalah laku utama Sang Jivanmukti.
Orang yang dengan sadar melaksanakan ajaran karma kanda berdasarkan kebenaran (sat atau buddhi atau satyam); kesucian (cit atau agama atau siwam); dan keindahan (anandam atau rasa atau sundaram) akan mendapatkan kebahagiaan duniawi dan rohani. Ketiga pilar tersebut adalah puncak teologi Hindu yang tidak lain adalah ”wajah” ke-Tuhan-an Hindu dalam tiga dimensi yang disebut trisula atau juga trikona, yakni atribut utama Bhattara Śiwa (Yasa, 2005:15). Inilah anugerah utama yang diterima Arjuna dari Bhattara Śiwa, yaitu pasupati sastra kàstu (KAW, XII.1). Pasupati sastra berwujud panah (manah: kesadaran) menjadi senjata Arjuna untuk melaksanakan swadharma. Artinya, kesadaran rasa, agama, dan buddhi adalah senjata utama untuk melaksanakan karma kanda.
Tiga dimensi ketuhanan ini menjadi dasar pengembangan kebudayaan Hindu selama berabad-abad. Trikona menjadi konsep kerja kebudayaan Hindu yang bercirikan komunal-ekspresif-religius. Komunalitas (sistem sosial) dibangun melalui sublimasi buddhi (kebenaran – kebijaksanaan), yaitu perpaduan sempurna antara yang benar dan yang baik. Sublimasi rasa melahirkan simbol-simbol yang menjadi inti sistem budaya. Secara bersama-sama, puncak aktivitas sosial dan budaya merupakan wujud bhakti (pelayanan dan persembahan) kepada Realitas Tertinggi yang menjadi inti sistem keagamaan. Inilah landasan kerja kreatif yang dibangun Mpu Kanwa melalui Kakawin Arjuna Wiwaha. Hal ini sekaligus menegaskan karakter local genious Hindu Indonesia yang menempatkan catur marga (karma, bhakti, jnana, dan raja yoga) sebagai kesatuan esensial, tanpa dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Dalam ajaran karma kanda inilah transfigurasi kesadaran terjadi, yaitu ketika agama menjadi spirit kemanusiaan.
Transfigurasi atau spiritualisasi dalam pandangan eksistensialis Nietszchean (Roberts, 2002:112) merupakan cara untuk mewujudkan eksistensi manusia, yakni kebebasan spirit. Nietzsche membangun gagasan spiritualitas postreligiusnya secara ekstrim bahwa kebebasan spirit diperoleh melalui “perahmatan” yang bukan hanya milik Tuhan dan wakil-wakilNya di dunia, melainkan transfigurasi. Manusia bisa menjadikan dirinya “tuhan”, bila ia berhasil melakukan transfigurasi praktik hidup ketuhanan. Boleh jadi, Nietzsche ingin menyampaikan pentingnya transformasi kesadaran ketuhanan (divine consciousness) menjadi kesadaran kemanusiaan (human consciousness) dalam kalimat yang lebih lunak. Dengan demikian, agama tidak lagi menjadi sekumpulan doktrin iman dan ibadat, tetapi diimplementasikan dalam tindakan nyata untuk mewujudkan kebahagiaan dunia (sukaning rat).

Daftar Kepustakaan

Mehta, Rohit. 2005. Bertemu Tuhan Dalam Diri. Denpasar: Sarad

Robert, Tyler T. 2002. Spiritualitas Postreligius Eksplorasi Hermeneutis Transfigurasi Agama dalam Praksis Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Qalam.

Tim. Penyusun. Tt. Kakawin Arjunawiwaha. Singaraja: Yayasan A.A. Panji Tisna.

Yasa, I Wayan Suka. 2005. “Yajna Sang Kawi”. Artikel. Dimuat dalam Majalah Dharmasmerti. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.
_________________. 2009. Teori Rasa: Memahami Taksu, Ekspresi, dan Metodenya. Denpasar: Fakultas Ilmu Agama UNHI Denpasar bekerjasama Penerbit Widya Dharma.

Zimmer, Henrich. 2003. Sejarah Filsafat India. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zoetmulder, P.J. 2000. Manunggaling Kawula lan Gusti. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.[1]



[1] Tlas sinurat, 19 Oktober 2011, 03.00 wita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar